Senin, 05 Juli 2010

Betapa Gw Merindukannya

Hujan ternyata tidak mampu meluruhkan rinduku padamu

Yang bergelayut manja padaku sepanjang hari

Padahal, kupikir kau telah melupakanku

Tapi tidak, ternyata!

Sebagai penawar, kucoba menyingkap secuil kenangan kita

Agar aku ataupun kamu, bisa mengecap kembali rasa yang dulu pernah ada

Agar aku ataupun kamu, bisa mengisi ruang rindu yang tersisa

Meski lewat potongan2 gambar yang bercerita



Note :

I really miss that moment!!

Gw kangen baca puisi ga ujug2 di kantin Fateta ato Faperta, tanpa ada angin atopun hujan, pada saat jam makan siang, sehingga orang2 menyangka gw kesurupan.

Gw kangen kabur dari kuliah karena kebelet pengen jadi manusia patung di koridor Faperta, ampe encok kumat disebabkan bertahan pada posisi yang sama dalam waktu lama (baca : at least 45 menit).

Gw kangen menyiksa anak2 kalo lagi latihan, dimana mereka ga boleh melenceng sepatah kata pun dari naskah yang gw buat, sedangkan gw sendiri dengan liciknya membuat dialog yang pendek untuk part gw.

Gw kangen ngejarah barang2 yang diperlukan untuk pementasan, ngedatengin satu per satu kostan, mulai dari kostan orang yang dikenal baik, ato orang yang hanya ‘sekedar’ kenal, ato gudang barang2 bekas kepunyaan kampus, demi mendapatkan barang yang dibutuhkan.

Gw kangen latihan ampe pagi2 buta, lalu menyempatkan diri sebentar nongkrong di warung mie rebus deket pertigaan demi mengisi perut yang keroncongan, sebagai persiapan untuk memanjat pagar kostan setinggi 2 meter, karena pintu gerbang udah dikunci sama si Tante.
Gw kangen nginep di koridor kampus, gara2 menjaga lukisan2 bernilai puluhan juta rupiah, yang dipinjam dari sebuah galeri di Jakarta, pada saat even Panen Seni tiba.
Gw kangen nonton Tetaer Koma, Teater Payung Hitam, ato pementasannya anak2 IKJ di TIM, yang mana bela2in nonton walopun kudu naik KRL Bogor - Jakarta jam pulang kantor yang penuh sesak ampe bernafas pun susah, dan nyampe di Bogor pagi2, hanya beberapa jam sebelum perkuliahan dimulai.

Gw kangen rasa deg2an yang secara tiba2 menyerang di awal, pada saat kami mengadakan pagelaran, karena gw sebagai sutradara dan pemain harus menerima penilaian penonton, yang kemungkinannya hanya ada dua, yaitu nilai memuaskan jika pementasan kami sukses, ato nilai di batas terendah jika kami gagal.

Gw kangen sama makhluk2 sarap yang mau menuruti nafsu buas gw, yang mau kerja rodi dengan gw, yang mau mewujudkan ide2 sinting dalam otak gw, yang mau mewujudkan cita2 berkesenian gw.


Habis pementasan bersama seluruh komunitas teater yang ada di IPB, tanggal 25 April 2003, di koridor Faperta. Tapi lupa judul acaranya apa. Hayo tebak gw yang mana??


Nongkrong di Saras (Sari rasa), Padjajaran. Atas (kiri - kanan) : Bakur, Sang Penata Lampu; Daru, as a driver langganan; Yudi, makhluk jenius dalam menata musik. Bawah (kiri - kanan) : Dita, pemain berbakat; Jeng Soes yang manis; Zikra, perempuan bersuara emas yang hampir kami daftarkan Indonesia Idol tapi memohon agar tidak dilakukan secara Bokapnya galak; Adit, pembantu umum sekaligus budak belian [huahaha, maapkan akyu Dit telah membiaskan jasa2 besar lo. Ni gw tambahin komen gw tentang lo], dan juga orang yang sangat berjasa dalam menghadapi amukan Pak Dekan Faperta saat tau lantai Auditorium Thoyib tercintanya dibakar sama gw; Emma, pemiliki suara kembaran dengan Ruth Sahanaya.



Malam Amal untuk korban Tsunami Aceh, bertajuk Mayor Minor in Harmony, diadakan di GWW (gedung wisuda), taun 2005. Teater berkolaborasi dengan anak2 Agria Suara (paduan suara kampus) dan kesenian Sunda [sorry gw lupa namanya apa]. Pertama kali gw menyutradarai orang banyak, lebih dari 70, bandel2 pula. Oya, Temans liat poster segede bagong yang bertuliskan "Indonesia Menangis"? Coba tebak bikinan sapa? Yup, gw tuh yang nulis ampe tangan gempor! Btw pengisi acara ada juga Yana Julio, secara dia alumni IPB.




Eng....ing....eng..... Artisnya muncul hahaha narsis!! Sebelah kiri gw adalah pemain biola berbakat nan eksentrik, pluz manusia cum laude se-Faperikan (Fakultas Perikanan), biasa kami sebut Mas Mo [sebenernya adik angkatan, tapi secara mukanya tuwir jadi dipanggil Mas. Kadang bisa juga Om ato Aki].



Pementasan "Perempuan Atas Nama Kenangan" di Auditorium Faperta, 2005. Ini adalah pagelaran yang gw biaya sendiri segala sesuatunya (sewa gedung, cetak poster dan tiket, dekorasi, dll), sebagai acara perpisahan [udah wisuda gituh loh Jeng Soesnya]. Alhamdulillah 300 tiket sold out.

Gw yang berperan sebagai ibu2 beranak 1 [yang sebelah gw itu ceritanya anak gw], yang punya trauma buruk alias dilecehkan secara seksual pada saat remaja.

Indah, anggota Teater Jaring (Faperikan), aktris yang sangat berbakat. Berperan sebagai anak kecil yang trauma berat sebab diperkosa oleh Ayahnya sendiri. Oya, liat kan ayunan properti yang ada di samping? Itu adalah hasil jarahan di kostan gw sendiri. Si tante galak pemilik kostan, pas tau ayunan cucunya ilang, langsung teriak "maliiiinnnnggg.....maliiinnnggg", dan baru reda setelah dikasih tau kalo ayunan itu hanya dipinjem sebentar oleh salah satu anak kostannya (baca: gw).

Sahat, anggota Masyarakat Roempoet (Fahutan), berperan sebagai PSK yang pintar. Ni makhluk ngamuk2 gara2 dialognya paling panjang diantara pemain lainnya [sorry yah Hat, gw kan pengen juga ngerjain lo. Anggap ajah sebagai hadiah wisuda dari gw]. Btw ada cerita lucu disini. Salah satu properti untuk Sahat adalah kondom. Waktu gw suruh semua orang untuk beli tu Durex di Alfamart, semuanya pada nolak karena takut diduga akan berzinah. Akhirnya gw dan Abi, penata musik gw, nekad beli benda itu. Eh giliran abis pementasan, kotak Durex yang berisi 3 biji kondom, entah raib kemana tidak bisa ditemukan.

Dita, anggota Ladang Seni, sebagai wanita terpasung. Ranjang yang digunakan Dita gw pinjem paksa dari kostan temen gw, ampe ngamuk ibu kostnya [hahaha maapkan akyu Bu].

Ini adegan terakhir. Untuk properti keranda, tadinya mo minjem dari masjid deket kampus, tapi ga dikasih karena pengurus masjid bilang pamali. Akhirnya dibikinlah keranda2an dari bambu, yang ditutupi kain. Sehabis pemnetasan, beberapa penonton yang duduk di jajaran depan bilang bahwa tadi berapa kali kerandanya gerak sendiri. Hadoooohhhh!! Langsung parno dah gw secara gw penakut pisan!

Selesai sudah pementasannya. Dilanjutkan dengan sesion narsis. Btw liat dah muka gw cemong2 gituh karena dikasih cat sama orang2 gebleg.

Panen Seni 2 Taun 2004. Kali ini gw mengangkat sebuah buku karya Nawal El Sadawi "Perempuan di Titik Nol", dituangkan dalam bentuk teaterikal. Gw ga main, kali ini pure sebagai sutradara.

Fakta

# Lulus SMA, gw mengajukan proposal ke Nyokap, selaku penyumbang dana kuliah terbesar, untuk kuliah di IKJ. Dengan berapi2 Nyokap menolak proposal gw. Beliau bilang bahwa yang namanya teater di Indonesia belum semaju di luar negeri, Eropa misalnya, sehingga ga menjamin gw bisa mendapatkan gaji bulanan yang tetap, bonus akhir tahun, THR kalo Lebaran, asuransi kesehatan, plus keuntungan2 lainnya kalo kita kerja di perusahaan. Memang seh ada beberapa kelompok2 teater yang sudah professional dan dapat dijadikan tempat mencari nafkah. Tapi tetep Nyokap kekeuh surekeuh ingin agar gw kuliah yang “normal”, dapat gelar sarjana anu, sehingga nantinya bisa bekerja dengan “normal” juga [maap beribu maap yah penonton, gw ga bermaksud bilang bahwa pekerja seni khususnya teater adalah ga “normal”. Gw hanya menceritakan pandangan Nyokap]. Maka jadilah gw sebagai salah satu peserta yang mempertaruhkan nasibnya pada suatu ujian bernama UMPTN. Hingga akhirnya terdampar di Institut Pertanian Bogor, Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, program studi teater.

# Waktu KKP (Kuliah Kerja Praktek) di Kuningan, gw mendengar bahwa Teater Koma mo ngadain pementasan Opera Kecoa. Tanpa pikir panjang gw minta ijin sama Ibu Kuwu (baca : Ibu Kades) 3 hari karena gw mo nonton ke Jakarta. Bu Kades pun mau tutup mulut ga ngelaporin perbuatan nista gw itu ke dosen pembimbing, setelah gw iming2i dengan oleh2.

# Gw pernah dateng ke kampus dengan mengganjal perut memakai bantal, terus pake daster, belagak hamil lah pokonya. Di angkot, ibu2 pada kasian ama gw ampe ada yang nanya "Udah hamil gede ko masih ajah masuk kuliah, Neng? Mbok ya ambil cuti". Waktu nyampe kampus, mo naik tangga di jurusan tercinta, seorang dosen Sosek (Sosial Ekonomi), ngebantu gw untuk naik tangga. Gw dengan dodolnya berhenti setiap 3 anak tangga, mengambil nafas dalam2, ngelus2 perut, lalu melanjutkan perjalanan, dengan digandeng Beliau. Hahahaha, kalo inget jadi ngerasa berdosa udah boongin mereka semua.

# Mulai dari koridor kampus, kantin, taman, ruangan auditorium dan rektorat yang ber-AC, pertigaan Istana Bogor dengan SMA 1 dan Hotel Salak, kantor walikota Bogor, ampe tempat2 yang memiliki panggung ato cuma ngampar udah pernah gw jalani. Tapi yang paling berkesan bagi gw adalah waktu mengisi acara 'Hari Lingkungan Hidup' yang diadakan oleh Rektorat, dan dihadiri oleh orang2 penting seperti asisten Menteri [Bapak Menterinya lagi ke salon jadi berhalangan hadir], pejabat2 kota, dll. Kenapa paling berkesan? Coz kami ber'4 (gw, Vika, Piir, Agung), baca puisi di atas danau buatan IPB, turun dari gedung diatas jembatan dengan tali, persis orang lagi wall climbing, tapi tanpa pegangan. Bagi gw yang fobia ketinggian dan kaga bisa berenang, bener2 perbuatan horor dan nekad yang pernah gw lakukan [apalagi pas latihan sama anak2 pencinta alam selama seminggu, dimana kami dipaksa turun dari lantai 5 di kampus Perikanan ke lantai dasar. Nyiksa boooo!].

# Dari sekian banyak teman2 di teater yang memiliki cita2 untuk bergabung dengan teater yang profesional dan udah punya nama, hanya Vika lah, teman gw asal Solo, adik angkatan [gw angkatan 37, doski 41] yang udah gw anggap seerti adik sendiri secara gw dan dia dibilang mirip [mirip itemnya], sukses bergabung dengan Teater Koma. Sayang pementasan perdana dirinya di TIM kaga bisa gw tonton, karena gw udah terdampar di Bintulu. Hiks!

# Hamil Zahia 4 bulan, gw ngidam pengen baca puisi di depan khalayak ramai. Setelah laki gw bujug2, gw pun mengurungkan niat tersebut demi menjaga kehormatan suami dengan tidak melakukan perbuatan2 anarkis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar