Jumat, 11 Desember 2009

Zahia's Story

Zahia Shahmin Najla. Nama itu Ayah & Bunda cari di Gramedia Pontianak. Hehehe, bukannya kopet-markopet ga mau beli bukunya, tapi AyBun cuma berfikir kalo bisa nyolong2 baca kenapa harus beli. Yup, dari awal memang AyBun sudah sepakat bahwa nama anak kami, laki-laki ataupun perempuan, mulai dari anak pertama dst [kalo Ayah maunya ampe anak ke-5, kalo Bunda ke-3 ajah], harus terdiri dari 3 kata. Huruf pertama dari kata pertama adalah Z (diambil dari Zulfadhli), huruf pertama dari kata kedua & ketiga adalah S & N (dari Susan Noerina). Maka terpilihlah nama unuk putri pertama nan cantik jelita, sholehah, pintar, huebat, meskipun susaaaaah makan [loh???] yang artinya: ZAHIA = cantik, cerdas; SHAHMIN = putri; NAJLA = baik keturunannya, memiliki mata yang indah. Semoga kelak Zahia akan menjadi orang seperti do’a AyBun dalam namanya. Amien.
Back to the past, Bunda masuk Hospital Bintulu tanggal 15 October 2008 jam 9 pm, diantar oleh Mr. Rajan, Mbak Encing, dan Mama Tin, karena air ketuban rembes dari pagi. Waktu itu Ayah sedang dinas luar ke Paong, Bunda sendirian di rumah. Ayah pun baru tau keesokan harinya bahwa Bunda di hospital saat sedang QC di block [yang menyebalkannya Ayah baru dateng tanggal 16 sore…hiks!!]. Zahia lahir tanggal 17 Oktober 2008 [nunggu Ayah ya Nak?], pukul 12.24 am.

Sebetulnya dari jam 9 pm Bunda udah ngerasa pengen BAB. Bunda nongkrong di kamar mandi setengah jam (dan emang BAB beneran), tapi koq setelah si pup keluar bukannya lega malah pengen BAB lagi. Yo wess Bunda nongkong lagi. Mungkin karena lamaaaaaaa, nurse manggil Bunda suruh keluar. Bunda diperiksa (diraba2 gitu deh), trus nurse bilang “gaswat, dah bukaan 2”. Langsung Bunda disuruh masuk ke ruang pemeriksaan, diperiksa lagi dan ternyata udah bukaan 4, di USG juga untuk liat posisi baby dll. Ga lama masuk lagi segerombol nurse yang langsung dengan hebohnya : buka jilbab Bunda [panik mode on langsung minta kain, topi, atau apa ajah yang bisa nutupin kepala]; meretelin gelang, cincin, dan segala pernak-pernik emas; masang jarum infus di tangan; selang untuk pepsi dipasang di v*g**a; ada juga yang nyoba masangin selang sepanjang 40 cm di hidung yang nantinya nembus kerongkongan (Bunda lupa apa namanya, kateter bukan ya??) tapi gagal maning gagal maning padahal udah 4x dicoba [plizz deh ga bangets ampe hidung berdarah2 bo!! Untung ada Ayah yang bisa diremes2 tangannya]. Para nurse ini mempersiapkan Bunda untuk operasi. WHAT?! OPERASI??? Bunda meskipun kepengeeeennn banget melahirkan normal, harus di caesar kata Dokter karena posisi baby sungsang + usia kandungan 32 minggu. Setelah seluruh persiapan beres, Bunda pun diantar ke Dewan Operasi (ruangan operasi). Tapi sayangnya Ayah cuma bisa anter sampai depan pintu operasi, ga boleh masuk (padahal kalo di Indonesia mah bisa di video-in segala).
Ruang operasi ternyata dingiiiiiinnnnn bangets. Bunda, yang emang udah dari sononya cerewet, ngerumpi mulu sama Dokter dan perawatnya. Sebenernya seh untuk menghilangkan rasa nervous + dag dig dug serr. Berikut adalah beberapa percakapan Bunda :

Bunda & Dr. Anastesi, pas mau dibius lokal

Bunda : “Dok, sakit ga disuntiknya? Saya takut disuntik. Lagian katanya suntik di tulang belakang itu sakit banget” (muka panik + gemeteran karena kedinginan)
DA : “Ga sakit ko, tenang aja” (cengar-cengir)
Bunda : “Saya pegang tangan Dokter yah” [genit amat seh Bun!!]
DA : “Tar saya nyuntiknya gimana?” (senyum) [hmmm….bener juga]
Bunda : “Dokterrrrrr muslim kah?” (tambah gemeteran)
DA : “Iya muslim”
Bunda : “Dok, udah belum disuntiknya??? ” [untung Dokternya sabar, thanks yah Dok]
DA : “Udah ko disuntiknya. Ga kerasa apa2 khan?” [huehehe, ternyata…..]

Setelah itu Bunda dibaringkan di tempat tidur (tadi pas dibius posisinya duduk), dikasih pemanas yang bentuknya kaya pengisap debu, trus bagian perut ke bawah dihalangi kain [supaya Bunda ga bisa intip].

Bunda & perawat, pas habis dibius tapi belum mulai operasi

Bunda : “Mas….Mas….. ko saya ngerasa kedinginan banget yah? Pemanasnya digedein dunks” [Mas?? Emang di Jawa!]
P : “Itu sudah paling besar”
Bunda : “Mas orang mana? Orang Arab yah? Ko mukanya Arab banget?” [sotoy mode on]
P : “Bukan, saya orang Dayak Iban”

Itulah efek bius lokal, menimbulkan fatamorgana yang kemudian memicu mulut untuk melontarkan pertanyaan2 ga penting

Bunda & Dokter Bedah, kemungkinan tanya jawab ini dilakukan saat Beliau sudah mau start meng-operasi

DB : “Sakit ga?”
Bunda : “Ga berasa apa2 tuh Doc”
DB : “Ok”

Ya sodara2, ….. I think this is the time. Bunda 100 % yakin pas tadi Dokter nanya pasti perut Bunda udah mulai dibedah. Selama operasi Bunda tetep sadar meskipun agak2 keleyengan. Ga berapa lama tiba2 ada suara “blep …blep…. blep….. wrok…. wrok….. grok”. Aha, inikah suara baby kami? Ataukah suara kodok? Kan ga mungkin ada kodok di ruangan operasi! Tapi Bunda bingung kalo baby kenapa ga ada suara tangisan? Bunda tanya ke perawat yang ngebetulin letak pemanas, dia bilang “Iya itu anak kamu” (dan baru tahu kemudian kalo Zahia bersuara kaya kodok gituh karena ada lendir di hidung & mulutnya). Ya Allah, Alhamdulillah, segala puji hanya bagi-Mu, akhirnya resmi sudahlah kami menjadi orang tua, menjadi seseorang yang kelak akan dipanggil Ayah & Bunda.

Alhamdulillah Allah Maha Besar meskipun prematur tapi Zahia hanya 6 jam berada di inkubator, setelah itu Dr. Andrew bilang kondisi Zahia ok dan bisa ditempatkan di box. Hanya saja yang Bunda sesalkan Bunda ga bisa melakukan IMD (Inisisasi Menyusui Dini) sebab kondisinya ga memungkinkan [maafkan Bunda ya nak….]. Selama di wad anak pun Zahia diberi susu formula karena ASI Bunda belum keluar (walaupun kata nurse Zahia menolak ga mau minum susu itu).

Ini adalah detail data waktu Zahia lahir :
# Berat : 1,86 kg
# Panjang : 43 cm
# AFC : 30 cm
# Apgar Score : 8’95
# S/B : 7.9

Total biaya selama 4 hari di hospital adalah RM 1.709 dengan perincan sbb:

Bunda
Room (kelas 3), yang ada 6 bed di 1 ruangan RM 40 x 4 = RM 160
Rawatan RM 10 x 4 = RM 40
Pembedahan (caesarian) = RM 1.000
Radiologi (USG 2x) = RM 50
Makmal (pemeriksaan laboratorium) = RM 262
Biaya lain-lain (ga ngerti apa aja itemnya) = RM 60
TOTAL BUNDA = RM 1.572

Zahia
Room (Special Care Nursery) RM 100 x 1 = RM 100
Rawatan RM 10 x 1 = RM 10
Makmal = RM 27
TOTAL ZAHIA = RM 137

GRAND TOTAL (BUNDA + ZAHIA) = RM 1.709

Oya, satu lagi kejadian lucu adalah pada saat datang ke hospital Bunda kan ga bawa apa2 (baca: tas yang berisi persiapan2 untuk baby seperti baju, popok, selimut, peralatan mandi, dll), wong belum beli apa2 karena kan AyBun pikir baru 7 bulan. Akhirnya setelah Zahia lahir barulah Ayah ngibrit ke Sing Kwong Supermarket untuk membeli perlengkapan baby. Sedihnya lagi karena saat itu belum gajian dan duit terbatas, maka Ayah hanya membeli: 4 pasang baju + celana panjang, 1 buah topi, 2 pasang sarung tangan & kaki, 1 set tempat tidur baby, 1 lusin lampin, 1 pack diapers, 1 set perlengkapan mandi yang 100 ml. That’s all. Alhamdulillah keesokan harinya Uti datang dari Indonesia dan membawa lusinan perlengkapan baby. Thanks a lot Mom.

Melahirkan memang pengalaman yang sangat menakjubkan (of course gw ga akan mengenyampingkan masa 7 bulan kehamilan), meskipun gw ga mengalami apa yang dibilang orang sebagai perjuangan antara hidup dan mati. Saat kita sendiri mengalaminya, maka saat itu juga lah kita akan benar2 memahami betapa berat, betapa hebat, betapa mulianya seorang ibu [iya Yah, peran seorang Ayah juga sangat besar, mulai dari mewujudkan nafsu liar Bunda selama hamil sampai bergiliran jagain Zahia kalo Bunda ketiduran walopun itu berarti pagi harinya Ayah kerja dengan mata merah & muka kusut. Luv u Hon]. Zahia, jadi anak yang sholehah ya Nak. Jangan nakal. Berbakti sama orang tua. Buat Mama, insya Allah aku akan mencoba untuk selalu menyenangkan Mama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar